Rabu, 13 Juni 2012

cerita kita di magelang :) [eps 1]

hari sabtu tgl 5 mei 2012...


liat deehh.....sebelum naek bis...
hahaha...ribet sendiri :)



pewe...mau joget..hehe..


liaaaaattt Ableh nggak banget mukanyaaaaaaaa....
bilangin medinaaaa aaahhh...............


hap-hap-hap..
inilah pembimbing kami...di bis....
pak made dan pak cecep

Selasa, 12 Juni 2012

FUN SKATE

maen skate... pake sepatu dulu yuuu..



udah siap !!!! saatnya kita beraksi.......................


hahahaha........bisa nggak bisa yang penting berani coba :)

suka-duka di asrama

"tingkat 3 ngumpul...tingkat 3 ngumpul"
teriakan-teriakan anak asrama setiap malam kalau ada sesuatu yang harus dibicarakan....
hahahahaha...
berapa bulan lagi yaahh??
ehm kira-kira 2 bulan lagi tinggal di asrama, dan 2 bulan lagi juga mendengarkan teriakan anak-anak asrama..
mau tau nggak.. asrama semakin malam semakin rame, kaya di pasar..
hahaha..kadang lucu sendiri ngaliat anak-anak yang lain pada bolak-balik ke lorong teriak-teriak nggak jelas..
hahahaha.......kocak**
apa lagi di ruang makan..
rusuhnyaaaaaaa.... ngantri makan.....
hahahahaha...


Stroke Non Hemoragic


A.    Pengertian
Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. ( Suzzane. C. Smeltzer. (2001). Hal 131)

Menurut WHO Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan cepat, selama lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab lain selain gangguan vaskuler.

Stroke non hemoragik adalah oklusi pembuluh darah otak yang kemudian menyebabkan terhentinya pasokan oksigen dan glukosa. (Hadi Martono. (2010). Hal:892).

B.     Etiologi
Stroke biasanya diakibatkan karena terjadi trombosis (bekuan darah otak atau leher). Embolisme (penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak, dan udara). Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak). Hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak. Akibatnya adalah penghentian suplai darah ke otak yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori, bicara atau sensasi.
Adapun factor resiko terjadinya stroke Non Hemoragic antara lain Usia, Jenis Kelamin, Keturunan, Hipertensi, Diabetes Mellitus, Hiperkolesterolemi, merokok, peminum alcohol, obesitas, dan stress fisik dan mental. Tanda dan gejala bicara jadi ngaco, sulit menelan, sulit berbahasa, menjadi pelupa dan vertigo.





C.    Patofisiologi
Stroke terjadi karena kerusakan sirkulasi (aliran) dalam satu/ lebih pembuluh darah yang menyediakan darah pada otak. Stroke Non Hemoragik disebabkan oleh thrombosis dan embolisme. Thrombosis terjadi saat pembekuan darah menyumbat pembuluh darah, sehingga menghentikan aliran darah ke jaringan otak. Akibatnya penyediaan darah dan oksigen ke otak menjadi berkurang/ bahkan terhenti yang kemudian akan merusak daerah tertentu ke dalam jaringan otak. Selain itu penurunan aliran darah ini dapat menyebabkan iskemik, yang akan berlanjut menjadi infark. Dalam waktu tertentu daerah tersebut akan mengalami edema dan lama – kelamaan akan terjadi nekrosis. Stroke yang disebabkan karena thrombus biasanya muncul dengan gejala tiba – tiba dan hilang timbul. Stroke yang terjadi akibat embolus biasanya menimbulkan defisit neurologik mendadak. Biasanya serangan terjadi saat pasien beraktifitas. Embolus merupakan suatu gumpalan dari jantung atau lapisan lemak yang berasal dari pembuluh arteri rontok dan menyumbat pembuluh – pembuluh arteri utama yang menuju ke otak. Dan embolus akan menyumbat aliran darah yang menuju ke otak dan akan ada bagian dari otak yang teraliri oleh darah dan sehingga akan mengalami penurunan fungsi bahkan terjadi kerusakan. Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor resiko terjadinya Stroke Non Hemoragik karena terbentuknya plak aterosklerosis tadi pada dinding pembuluh darah yang disebabkan gangguan metabolisme glukosa. Kolesterol tinggi menjadi pemicu Stroke Non Hemoragik karena kolesterol merupakan zat di dalam aliran darah dan makin tinggi kolesterol semakin besar kemungkinan dari kolesterol itu tertimbun pada dinding pembuluh darah. Sehingga menyebabkan pembuluh darah menjadi sempit sehingga mengganggu suplai darah ke otak. Penyakit Jantung menjadi faktor resiko karena embolus dari jantung yang akan menjadi penyebab Stroke Non Hemoragik. Kebiasaan merokok yang berlebihan akan berefek pada proses pembentukan plak aterosklerosis. Karena rokok akan terjadi perkembangan aterosklerosis karena meningkatkan oksidasi lemak, dimana karbon monoksida yang terdapat pada rokok diyakini sebagai penyebab utama kerusakan vaskuler. Obesitas dapat menyebabkan terjadinya stroke karena terhentinya suplai oksigen secara mendadak di otak yang disebabkan oleh peningkatan lemak di dalam tubuh yang akan terjadi penumpukan dan mengganggu sirkulasi aliran darah. Suplai oksigen ke otak akan berkurang. Apabila stroke merusak bagian sebelah kanan otak maka sisi tubuh yang sebelah kiri yang terkena pengaruhnya. Pasien akan mengalami kesulitan dengan persepsi spasial (lupa dimana berada), pelemahan ingatan, menunjukkan perilaku impulsif, seringkali sisi tubuhnya terabaikan, kemunduran kemampuan daya ingat, kelumpuhan pada bagian tubuh sebelah kirinya. Apabila stroke dengan kerusakan pada otak sebelah kiri akan lebih mengacu kepada kelumpuhan atau kelemahan motorik yang ada pada sisi tubuh sebelah kanan dan akan menunjukkan perilaku kemunduran kemampuan bicara (pelo), perilaku dengan gaya kehati – hatian yang lamban, kemunduran daya ingat (lupa kata – kata yang harus diucapkan). Area infark ini dapat menimbulkan dan menyebabkan penderita stroke mengalami sakit kepala mendadak, disertai gejala umum, seperti : muntah, penurunan kesadaran, kejang, demam, disorientasi, sering kesemutan serta defisit motorik. Komplikasinya, hipoksia serebral, penurunan darah serebral,dan luasnya area cidera.




D.    Penatalaksanaan Medis
1.      Farmakoterapi
a.       Anti Koagulasi : Dapat diberikan pada Stroke Non Hemoragik selama 24 jam sejak serangan gejala - gejala dan diberikan secara intravena. Seperti natrium warfarin (coumadin), heparin, anti trombosit (ASA), dipiridamol (persantine).
b.      Anti Platelet : Untuk mengurangi peleketan platelet seperti aspirin, asam traneksamat, cyclooxygenase inhibitors. Kontra indikasi pada stroke hemoragik.
c.       Bloker Kalsium : Untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini untuk merilekskan otot polos pembuluh darah contoh obat seperti : diltiazem, nifedipin, golongan beta blokers, hidralazin.
d.      Anti kolinergik contoh pentoxifylline (Trental) : Untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenisasi ke jaringan otak yang mengalami iskemik.
e.       Anti hipertensi : Untuk menangani masalah hipertensi. Seperti catopril, zypras, catapres.
2.      Non Farmakoterapi
a.       Ubah posisi setiap 2 jam, baringkan pasien dalam posisi terlentang selama 15-30 menit beberapa kali sehari.
b.      Pertahankan jalan nafas dan ventilasi yang adekuat, bila perlu berikan oksigen 2 liter/ menit.
c.       Berikan latihan rentang gerakan sendi 4-5 kali sehari untuk mempertahankan mobilitas dan mencegah kontraktur.
d.      Bedrest.
e.       Berikan latihan rentang gerak sendi 4-5kali sehari.
f.       Diit randah garam dan rendah kolesterol

E.     Pengkajian Keperawatan
1.      Aktivitas/ Istirahat
Gejala : Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilangan sensasi/ paralisis (hemiplagia).
Tanda : Gangguan tonus otot (flaksid spastik); paralitik (hemiplagia) dan terjadi kelemahan umum, gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran.
2.      Sirkulasi
Gejala : Adanya penyakit jantung (MI, Reumatik/ penyakit jantung vaskuler, GJK, endokarditis bacterial), polisitemia, riwayat hipotensi postural.
Tanda : Hipertensi arterial (dapat ditemukan/ terjadi pada CSV) sehubungan dengan adanya embolisme/ malformasi vaskuler, nadi : frekuensi dapat bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung/ kondisi jantung, obat-obatan, efek stroke pada pusat vasomotor), disritmia, perubahan EKG, desiran pada karotis dan arteri iliaka/ aorta yang abnormal.

3.      Integritas Ego
Gejala : Perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa.
Tanda : Emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah sedih dan gembira, kesulitan untuk mengekspresikan diri.
4.      Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (distensi kandung kemih berlebihan), bising usus negatif (ileus paralitik).
5.      Makanan/ Cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, mual/ muntah selama fase akut (peningkatan TIK), kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi dan tenggorok, disfagia.
Tanda :   Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan faringeal), obesitas (faktor resiko).
6.      Neurosensori
Gejala : Sinkope/ pusing (sebelum serangan CSV/ selama TIA) sakit kepala ; akan sangat berat dengan perubahan intraserebral/ subaraknoid, kesemutan/ kelemahan (biasanya terjadi selama serangan TIA yang ditemukan dalam berbagai derajat pada stroke jenis yang lain) ; sisi yang terkena terlihat seperti mati/ lumpuh, penglihatan ganda (diplopia) atau gangguan lainnya, sentuhan : hilangnya rangsang sensorik kontralateral (pada sisi tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas dan kadang-kadang pada ipsilateral (yang satu sisi) pada wajah, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda : Status mental/ tingkat kesadaran : biasanya terjadi koma pada tahap awal hemoragis; ketidaksadaran biasanya akan tetap sadar jika penyebab adalah thrombosis yang bersifat alami, gangguan tingkah laku (seperti penurunan memori), genggaman tidak sama, refleks tendon melemah secara kontralateral, pada wajah terjadi paralisis, afasia : gangguan/ kehilangan fungsi bahasa mungkin afasia motorik (kesulitan untuk mengungkapkan kata), resertif (afasia sensorik) yaitu kesulitan untuk memahami kata - kata secara bermakna atau afasia global yaitu gabungan dari kedua hal diatas, kehilangan kemampuan untuk mengenali/ menghayati masuknya rangsang visual, pendengaran taktil (adnosia) seperti gangguan kesadaran terhadap citra rubuh, kewaspadaan, kelalaian terhadap bagian tubuh yang terkena, gangguan persepsi, kehilangan kemampuan motorik saat pasien ingin menggerakkannya (apaksia). Ukuran pupil tidak sama, dilatasi miosis pupil ipsilateral (pendarahan/ perniasi), kekakuan nukal (biasanya karena pendarahan), kejang (biasanya karena pencetus pendarahan).
7.      Nyeri/ Kenyamanan
Gejala : Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda (karena arteri
  karotis terkena).
Tanda :   Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot/ fasia.
8.      Pernapasan
Gejala :   Merokok (faktor resiko).
Tanda: Ketidakmampuan menelan/ hambatan jalan nafas, timbulnya pernapasan sulit dan tidak teratur, suara nafas terdengar/ ronkhi (aspirasi sekresi).

9.      Keamanan
Tanda :  Motorik/ sensorik : masalah dengan penglihatan, perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh (stroke kanan), hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit, tidak mampu mengenali objek, warna, kata dan wajah yang pernah dikenalnya dengan baik, gangguan berespon terhadap panas, perhatian sedikit terhadap keamanan, tidak sabar/kurang kesadaran diri (stroke kanan).

10.  Interaksi Sosial
Tanda : Masalah bicara ketidakmampuan untuk berkomunikasi.
11.  Pembelajaran/ Penyuluhan
Gejala : Adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke (faktor resiko), pemakaian kontrasepsi oral, kecanduan alcohol (faktor resiko).
12.  Pemeriksaan Diagnostik
a.       Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari massa yang meluas ; klasifikasi karotis interna redoata pada thrombosis serebral ; klasifikasi parsial dinding aneurisma pada pendarahan subarachnoid.
b.      Ct Scan : Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia adanya infark.
c.       Angiografi Serebral : Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti pendarahan/obstruksi arteri, adanya titik oklusi/ rupture.
d.      MRI : Menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, malformasi arteiovena (MAV).
e.       Pungsi Lumbal : Menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis emboli serebral dan TIA. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarachnoid/ pendarahan intrakranial. Kadar protein total meningkat pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
f.       Ultrasonografi Doppler : Mengidentifikasi penyakit arteiovena (masalah system arteri karotis, aterosklerosis).
g.      EEG : Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
h.      Pemeriksaan Laboratorium : Hemoglobin, D-dimer, Asam urat, Kolesterol.

F.     Diagnosa Keperawatan
1.      Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah ; gangguan oklusif, hemoragik ; vasospasme serebral, edema serebral.
2.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler; kelemahan, parastesia; flaksid/ paralisis hipotonik (awal); paralisis spastik; kerusakan perseptual/ kognitif.
3.      Kerusakan komunikasi verbal/ tertulis berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral; kerusakan neuromuskuler, kehilangan tonus/ kontrol otot fasial/ oral ; kelemahan.
4.      Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan transmisi, integrasi (trauma neurologis/ defisit); stress psikologis (penyempitan lapang perseptual yang disebab oleh ansietas.
5.      Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/ koordinasi otot.
6.      Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial, perseptual kognitif.
7.      Resiko tinggi terhadap kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuskular/ perseptual.
8.      Resiko tinggi terjadinya komplikasi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang pengobatan.



G.    Perencanaan Keperawatan
1.      Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah; gangguan oklusif, hemoragik; vasospasme serebral, edema serebral.
Tujuan           : Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi.
Kriteria Hasil : Perubahan tingkat kesadaran, tanda-tanda vital stabil.
Rencana Tindakan :
a.       Tentukan faktor - faktor yang berhubungan dengan keadaan/ penyebab penurunan perfusi serebral dan potencial terjadinya peningkatan TIK.
b.      Pantau tanda-tanda vital.
c.       Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan, dan reaksinya terhadap cahaya.
d.      Pertahankan keadaan tirah baring.
e.       Cegah terjadi mengejan saat defekasi dan pernapasan yang memaksa.
f.       Berikan obat sesuai indikasi : anti koagulan, antifibrolitik, anti hipertensi, vasodilatasi perifer.
2.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuskular; kelemahan, parastesia; flaksid/ paralisis hipotonik (awal), paralisis spastik; kerusakan perseptual/ kognitif.
Tujuan                       : Kerusakan mobilitas fisik tidak terjadi.
Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi optimal dari fungsi yang dibuktikan oleh tidak adanya kontraktur, mempertahankan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena/ kompensasi.
Rencana Tindakan :
a.       Kaji kemampuan secara fungsional/ luasnya kerusakan awal dan dengan cara yang teratur.
b.      Ubah posisi setiap 2 jam.
c.       Sokong ekstremitas dalam posisi fungsional.
d.      Gunakan penyangga lengan ketika pasien berada dalam posisi tegak.
e.       Tempatkan bantal dibawah aksila untuk melakukan abduksi pada tangan.
f.       Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi.
g.      Pertahankan kaki dalam posisi netral.
h.      Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.
3.  Kerusakan komunikasi verbal/ tertulis berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral ; kerusakan neuromuskular, kehilangan tonus/ kontrol otot fasial/ oral ; kelemahan.
Tujuan                       : Komunikasi verbal tidak mengalami perubahan
Kriteria Hasil : Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi, membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan.
Rencana Tindakan :
a.       Mempertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semi fowler selama fase akut.
b.      Mintalah pasien untuk mengucapkan suara sederhana seperti pus.
c.       Minta pasien untuk menulis nama dan kalimat pendek.
d.      Berikan metode komunikasi alternatif.
e.       Katakan secara langsung kepada pasien, bicara perlahan dan dengan jelas.
f.       Bicaralah dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat.
g.      Anjurkan pengunjung/ orang terdekat mempertahankan usahanya untuk berkomunikasi dengan pasien.
4.      Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologis/ defisit) ; stress psikologis (penyempitan lapang perceptual yang disebabkan ansietas).
Tujuan                       : Persepsi sensori kembali normal.
Kriteria Hasil : Memulai/ mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi perceptual, mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya tingkat kesadaran dan adanya keterlibatan residual, mendemonstrasikan perilaku untuk mengkompersasikan terhadap defisit hasil.
Rencana Tindakan :
a.       Evaluasi gangguan penglihatan.
b.      Dekati pasien dari daerah penglihatan yang normal.
c.       Ciptakan lingkungan yang sederhana.
d.      Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/ dingin, tajam/ tumpul.
e.       Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan.
f.        Lindungi pasien dari suhu yang berlebihan, kaji adanya lingkungan yang membahayakan.
g.      Catat terhadap tidak adanya pertahanan pada bagian tubuh segmen lingkungan.
h.      Anjurkan pasien untuk mengamati kakinya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh tertentu.
i.        Observasi respon perilaku pasien seperti rasa bermusuhan.
j.        Hilangkan kebisingan/ stimulasi eksternal yang berlebihan sesuai kebutuhan.
k.      Lakukan validasi terhadap persepsi pasien.

5.      Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/ koordinasi otot.
Tujuan                       :   Klien dapat merawat dirinya sendiri.
   Kriteria Hasil : Mendemonstrasikan teknik/ perubahan gaya hidup untuk
 memenuhi perawatan diri.
Rencana Tindakan :
a.       Kaji kemampuan dan tingkat kesadaran.
b.      Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri.
c.       Sadari perilaku/ aktivitas impulsif karena gangguan dalam mengambil keputusan.
d.      Pertahankan dukungan sikap yang tegas.
e.       Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.
f.       Buat rencana terhadap gangguan penglihatan yang ada.
g.      Gunakan alat bantú pribadi.
h.      Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari kemampuan untuk menggunakan urinal, bed pan.
i.        Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut.

6. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial, perceptual kognitif.
Tujuan                : Gangguan harga diri rendah tidak terjadi.
Kriteria Hasil  : Bicara/ berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang terjadi, mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri, mengenai konsep diri dalam konsep yang akurat.
Rencana Tindakan :
a.       Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan, dengan derajat ketidakmampuannya.
b.      Identifikasi arti dari kehilangan/ disfungsi/ perubahan pada pasien.
c.       Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan pada perasaan marah.
d.      Catat apakah pasien menunjuk daerah yang sakit ataukah pasien mengingkari daerah dan mengatakan hal tersebut “telah mati”.
e.       Akui pernyataan perasaan tentang pengingkaran terhadap tubuh.
f.       Tekankan keberhasilan yang kecil sekalipun baik mengenal penyembuhan fungsi tubuh/ kemandirian pasien.
g.      Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik.
h.      Dorong orang terdekat agar memberi kesempatan/ partisipasi pasien dalam kegiatan rehabilitasi.
i.        Berikan pungutan terhadap penggunaan alat-alat adaptif, seperti : tongkat untuk berjalan.
j.        Pantau gangguan tidur.
k.      Rujuk pada evaluasi neuropsikologis.

7.      Resiko tinggi terhadap kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuskular/ perseptual.
Tujuan                 : Kerusakan menelan tidak terjadi.
Kriteria Hasil  : Mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi/ individual dengan aspirasi tercegah, mempertahankan berat badan yang diinginkan.
Rencana Tindakan :
a.       Tinjau ulang patologi/kemampuan menelan pasien secara individu.
b.      Letakkan pasien pada posisi duduk/tegak selama dan setelah makan.
c.       Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/ dibawah dagu jika dibutuhkan.
d.      Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang.
e.       Mulai untuk memberikan makanan per oral setengah cair, makanan lunak ketika pasien dapat menelan air.
f.       Pertahankan masukkan dan haluaran dengan akurat.
8.      Resiko tinggi terjadinya komplikasi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang pengobatan.
Tujuan                 :  Klien memahami tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil : Berpartisipasi dalam proses belajar, mengungkapkan pemahaman tentang kondisi atau prognosis dan aturan terapeutik, Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan.
Rencana Tindakan :
a.       Evaluasi tipe/ derajat dari gangguan persepsi sensori.
b.      Diskusikan keadaan patologis yang khusus dan kekuatan pada individu.
c.       Tinjau ulang keterbatasan saat ini dan diskusikan rencana kembali aktivitas.
d.      Tinjau ulang/ pertegas kembali pengobatan yang diberikan.
e.       Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
f.       Berikan instruksi dan jadwal tertulis mengenai aktivitas.
g.      Anjurkan pasien untuk merujuk pada daftar/ komunikasi tertulis atau catatan yang ada dari pada hanya bergantung pada apa yang diingat.
h.      Sarankan pasien menurunkan stimulasi lingkungan terutama kegiatan berfikir.
i.        Rekomendasikan pasien untuk meminta bantuan dalam proses pemecahan masalah dan memvalidasi keputusan, sesuai kebutuhan.
j.        Identifikasi faktor-faktor resiko secara individual.
k.      Identifikasi tanda/ gejala yang memerlukan kontrol secara medis.
l.        Rujuk pada perencanaan pemulihan/pengawasan perawatan dirumah dengan mengunjungi perawat.
m.    Identifikasi sumber-sumber yang ada di masyarakat.
n.      Rujuk/ tegakkan perlunya evaluasi dengan tim ahli rehabilitasi.

H.    Pelaksanaan Keperawatan
1.      Pengertian
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mecakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan mekanisme koping.
2.       Tahap Pelaksanaan
            Terdapat dua tahap dalam pelaksanaan keperawatan :
a.    Tahap persiapan
  Tahap awal tindakan keperawatan menurut perawat mempersiapkan segala sesuatu yang dipersiapkan dalam tindakan. Persiapan tersebut meliputi kegiatan-kegiatan :
1).    Review antisipasi tindakan keperawatan.
2).    Tindakan keperawatan disusun untuk promosi, mempertahankan dan memulihkan kesehatan klien.
3).    Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
4).    Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul.
5).    Mempersiapkan peralatan (resoureen) yang diperlukan.
6).    Mempersiapkan lingkungan yang kondusif.
7).    Mengidentifikasikan aspek-aspek hukum dan etik terhadap resiko dari potensial tindakan.
b.   Tahap pelaksanaan
Fokus tahap pelaksanaan tindakan keperawatan adalah pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara profesional sebagaimana terdapat dalam standar praktik keperawatan meliputi tindakan :
1).    Independen
Tindakan keperawatan independen adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Tipe aktivitas yang dilaksanakan berdasarkan diagnosa keperawatan.
Tipe tindakan keperawatan independen dikategorikan menjadi empat:
a).    Tindakan diagnostik
Tindakan yang ditunjukan pada pengkajian dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan. Tindakan tersebut meliputi: wawancara dengan klien, observasi dari pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
b).                 Tindakan terpeutik
Untuk mengurangi, mencegah dan mengatasi masalah klien
c).    Tindakan edukatif
Untuk mengubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan kepada klien.
d).   Tindakan merujuk
Tindakan ini lebih ditekankan pada kemampuan perawat dalam mengambil keputusan klinik tentang keadaan klien dan kemampuan untuk melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya.
2).      Interdependen
Tindakan keperawatan yang menjelaskan suatu kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya. Misalnya tenaga sosial, ahli gizi, fisioterapi dan dokter.

3).      Dependen
Tindakan dependen berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis. Tindakan tersebut menandakan suatu cara dimana tindakan medis dilaksanakan.
c.    Tahap Dokumentasi
Pelaksanan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

I.       Evaluasi Keperawatan
1.      Pengertian
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana keperawatan dan pelasanaannya sudah berhasil tecapai.
2. Proses evaluasi terdiri dari :
a. Formatif (proses)
  Fokus tipe evaluasi ini adalah aktivitas dari proses keperawatan dan  hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan. Evaluasi proses harus dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan.
b.    Sumatif (hasil)
   Fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir tindakan keperawatan klien.
c.    Penentuan keputusan yang mengacu pada tujuan ada tiga kemungkinan keputusan pada tahap ini, yaitu :
1).       Klien mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan.
2).       Klien masih dalam proses mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan.
3).       Klien tidak dapat mencapai hasil yang telah ditentukan.
d.       Komponen evaluasi
Komponen evaluasi dapat dibagi menjadi 5 komponen :
1).    Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi.
2).    Mengumpulkan data mengenai keadaan klien terbaru.
3).    Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar.
4).    Merangkum hasil dan membuat kesimpulan.
5).    Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan.